Selasa, 21 Februari 2012
Dunia
Rasanya ingin menelan dunia
Memuntahkannya
lalu menguburnya
Dunia
tak ada arti
Ahhhhhhhhhhhhh
Aku disibukkan dunia
dunia
dunia
kapan akhiratnya?
elMuflih
17 Februari 2012
Memuntahkannya
lalu menguburnya
Dunia
tak ada arti
Ahhhhhhhhhhhhh
Aku disibukkan dunia
dunia
dunia
kapan akhiratnya?
Menyeruduk Senja
Menyeruduk Senja
kucoba menyeruduk senja
pada separuh cahaya pada retinaku
memompa sudut pandangku
dalam lingkaran dunia
seperti resahku dalam karung
bertumpuk rapuh
meneriakkan ketakpastian
pada jalan berlumpur
cobalah tengok burung merpati
bebas tanpa resah sedikit pun
tak satupun resah merpati
menggelantung disayapnya.
el Muflih
Jeneponto, 21 Februaru 2012
kucoba menyeruduk senja
pada separuh cahaya pada retinaku
memompa sudut pandangku
dalam lingkaran dunia
seperti resahku dalam karung
bertumpuk rapuh
meneriakkan ketakpastian
pada jalan berlumpur
cobalah tengok burung merpati
bebas tanpa resah sedikit pun
tak satupun resah merpati
menggelantung disayapnya.
el Muflih
Jeneponto, 21 Februaru 2012
Kamis, 08 Desember 2011
Jika waktu tertuduh
waktu tertuduh
bercumbu bersama kemalasan
romantis yang membusuk
bersamanya kita kan berangan kebohongan
bermipi tanpa langkah
sebab tidur masih bersamanya.
cobalah membuka mata
menggenggam ruang meraba dunia
lari....
lari sekencangnya
pasti waktu tak kan kau tuduh
kerena malas enggan bersamamu lagi
Kau kan dijemput bahagia
menjauhkan resahmu
menunjukkan suksesmu.
Janganlah bercumbu dengan kemalasan!
el Muflih
8 Des 2011
bercumbu bersama kemalasan
romantis yang membusuk
bersamanya kita kan berangan kebohongan
bermipi tanpa langkah
sebab tidur masih bersamanya.
cobalah membuka mata
menggenggam ruang meraba dunia
lari....
lari sekencangnya
pasti waktu tak kan kau tuduh
kerena malas enggan bersamamu lagi
Kau kan dijemput bahagia
menjauhkan resahmu
menunjukkan suksesmu.
Janganlah bercumbu dengan kemalasan!
el Muflih
8 Des 2011
Sadarlah
Parlemen
Dalam tubuhmu tak ada idiologi
Kau bahas undang-undang kepentinganmu
Mengapungkan kepentingan rakyat
Idiologi materi dan kekuasaan
membutakan hati dan menutup telinga
dari jeritan rakyatmu
menusuk setiap hati rakyat
memeras air mata
membelenggu rasa
Semuanya hanya buih
mengapung tak terarah terbawah ombak
terhempas badai
Rakyat menderita
sadarlah!
Dalam tubuhmu tak ada idiologi
Kau bahas undang-undang kepentinganmu
Mengapungkan kepentingan rakyat
Idiologi materi dan kekuasaan
membutakan hati dan menutup telinga
dari jeritan rakyatmu
menusuk setiap hati rakyat
memeras air mata
membelenggu rasa
Semuanya hanya buih
mengapung tak terarah terbawah ombak
terhempas badai
Rakyat menderita
sadarlah!
Selasa, 06 Desember 2011
Pahatan Puisi
Rangkaian kata kupahat untuk kusimpan dalam hatimu.
hanya itu yang mampu kuberikan.
sampai batas titik
mengakhiri kata tuk merawat hati kita.
Aku, kau hanya kita berdua.
dalam puisi penuh rasa
el Muflih
Jeneponto, 28 November 2011
Aku Ingin
aku ingin jadi udara
berbagi sejuta kesejukan
aku ingin seperti air
mengalir berbagi bahagia
aku ingin seperti matahari
menghangatkan setiap sudut bumi
karena itu aku ingin.
Tak seperti hujan selalu sedih
dalam mendungnya awan
aku ingin
berbagi bahagia di alam bahagia
el Muflih
Jeneponto, 6 Des. 2011
berbagi sejuta kesejukan
aku ingin seperti air
mengalir berbagi bahagia
aku ingin seperti matahari
menghangatkan setiap sudut bumi
karena itu aku ingin.
Tak seperti hujan selalu sedih
dalam mendungnya awan
aku ingin
berbagi bahagia di alam bahagia
el Muflih
Jeneponto, 6 Des. 2011
Senin, 05 Desember 2011
Rindu di Ujung Sepi
Diujung senja aku…
Menyepi mengadu rindu
Merebutkan angin penyampai rindu
Pada setiap celah ranting
Dan daun kering bertulis namaku
Agar angin meresapi rinduku
Pada bulan separuh cahaya
Pesonanya melekat rekat pada retinaku
Hingga hatiku meresapi setiap kasihnya
Mengorek rundu
Pada sela hati yang sesak
Nursamsir Tahir
Jeneponto, 5 Desember 2011
Sabtu, 04 Juni 2011
Politik sampah
Politik sampah
pemburu kekuasaan
mengejar harta atas nama idiologi
Rakyat diterkam
mangsa para rerakus busuk.
Coloteh mereka terbungkus janji
peluru tuk merebut kekuasaan
politik busuk
lebih busuk dari sampah.
Rakyat dijerat, mereka menang
tapi menang atas nama penghianatan.
Semoga saja Allah memberikan hidayah.
Semoga...
pemburu kekuasaan
mengejar harta atas nama idiologi
Rakyat diterkam
mangsa para rerakus busuk.
Coloteh mereka terbungkus janji
peluru tuk merebut kekuasaan
politik busuk
lebih busuk dari sampah.
Rakyat dijerat, mereka menang
tapi menang atas nama penghianatan.
Semoga saja Allah memberikan hidayah.
Semoga...
Senin, 23 Mei 2011
Inginku
Kertas-kertas bersaksi
pada setiap langkah waktu
tangan-tangan mengepal
menggempur setiap ingin
Telah melayang beribu duka
berjalan di atas ingin tidaklah mudah
mesti menerobos dinding dan melewati celah batu, menginjak kerikil-kerikil. Belumlah pasti ingin tercapai.
Doaku telah kukirim
melewati langit
semoga sampai...
Smoga inginku tercapai
smoga...
pada setiap langkah waktu
tangan-tangan mengepal
menggempur setiap ingin
Telah melayang beribu duka
berjalan di atas ingin tidaklah mudah
mesti menerobos dinding dan melewati celah batu, menginjak kerikil-kerikil. Belumlah pasti ingin tercapai.
Doaku telah kukirim
melewati langit
semoga sampai...
Smoga inginku tercapai
smoga...
Senin, 02 Mei 2011
Dalam Waktu Mengejar Cita
lihatlah mereka
dalam waktu mengejar cita
sabar adalah peluru dalam kata
melewati setiap titik
jika sudah terang jalanmu nanti
syukurilah setiap hasil yang kau peroleh
jika kau memiliki setitik ikhlas
ikhlaskanlah pengorbananmu
cobalah renungkan!
Apa jadinya jika kau tak bersahabat
dengan buku-buku, polpen dan sedikit ketekunan?
Jika suatu saat mataharimu datang
pagimu cerah.
Rumput-rumput menari riang dan angin masih tersenyum.
Ucaplah syukur pada-Nya!
Sinjai, 2 Mei 2011
dalam waktu mengejar cita
sabar adalah peluru dalam kata
melewati setiap titik
jika sudah terang jalanmu nanti
syukurilah setiap hasil yang kau peroleh
jika kau memiliki setitik ikhlas
ikhlaskanlah pengorbananmu
cobalah renungkan!
Apa jadinya jika kau tak bersahabat
dengan buku-buku, polpen dan sedikit ketekunan?
Jika suatu saat mataharimu datang
pagimu cerah.
Rumput-rumput menari riang dan angin masih tersenyum.
Ucaplah syukur pada-Nya!
Sinjai, 2 Mei 2011
Minggu, 01 Mei 2011
Dingin Dalam Beku
dingin dalam beku
berselimut hujan
deras amuk resah
dalam licinnya jalan
lobang menganga
pada setiap rasa
menghambat ingin
dalam bekunya rasa
sesaat
di saat cinta tergantung pada rindu
mengapungkan angan
hanya ada rasa
beramuk rindu.
Sinjai, 1 mei 2011
berselimut hujan
deras amuk resah
dalam licinnya jalan
lobang menganga
pada setiap rasa
menghambat ingin
dalam bekunya rasa
sesaat
di saat cinta tergantung pada rindu
mengapungkan angan
hanya ada rasa
beramuk rindu.
Sinjai, 1 mei 2011
Selasa, 19 April 2011
Merayu Rindu
Aku merayu rindu
pada sebait kata
seuntai kasih
dalam kesunyian rindu
Sebelum sunyi datang
sebelum berpisahnya malam dengan bulan
aku telah merindu
Wajahmu masi ada dalam sketsa retinaku
Tersenyum...
Tertawa...
Sedih...
Kecewa...
Semuanya ada.
Aku rindu semua itu.
Biarlah waktu menabung rindu kita.
Jeneponto, 19 April 2011
pada sebait kata
seuntai kasih
dalam kesunyian rindu
Sebelum sunyi datang
sebelum berpisahnya malam dengan bulan
aku telah merindu
Wajahmu masi ada dalam sketsa retinaku
Tersenyum...
Tertawa...
Sedih...
Kecewa...
Semuanya ada.
Aku rindu semua itu.
Biarlah waktu menabung rindu kita.
Jeneponto, 19 April 2011
Senin, 04 April 2011
Bintang Menari
Dalam padamu
Seribu bintang menari menabur cahaya.
Terang menerobos gelap
pada celah pekat
menjelma cahaya.
Bulan tersenyum
dibalik matamu yang meramu rindu
resapi cinta
pada riuh kesendirian
Sebelumnya
Kulukis cintaku
di setiap sudut hatimu
kubenamkan rindu yang tak padam
seperti bintang menari menabur cahaya
Jeneponto, 4 April 2011
Seribu bintang menari menabur cahaya.
Terang menerobos gelap
pada celah pekat
menjelma cahaya.
Bulan tersenyum
dibalik matamu yang meramu rindu
resapi cinta
pada riuh kesendirian
Sebelumnya
Kulukis cintaku
di setiap sudut hatimu
kubenamkan rindu yang tak padam
seperti bintang menari menabur cahaya
Jeneponto, 4 April 2011
Cinta Menabur Cahaya
Pagi tersenyum
pada setiap sela cahaya
saat embun masih bersama pagi
menyulam cinta
Bahagia tampak pada wajah hari
mengukir seribu senyum perias cinta
merangkul pesona rindu yang merindu
Cinta menabur cahaya
merangkul rindu yang merindu
Makassar, 4 April 2011
pada setiap sela cahaya
saat embun masih bersama pagi
menyulam cinta
Bahagia tampak pada wajah hari
mengukir seribu senyum perias cinta
merangkul pesona rindu yang merindu
Cinta menabur cahaya
merangkul rindu yang merindu
Makassar, 4 April 2011
Rabu, 30 Maret 2011
Hujan
Hujan belum reda
awan menggulung menggumpal
hitam menutup celah cahaya
Sebentar lagi hujan turun
kan menitip pesan.
Pada pelakon dunia
pengukir zaman.
Coba pikirkan
hayatati renungkan
setiap pesan-pesan hujan
Banjir yang menghanyutkan
bukankah ini peringatan?
Renungkan!
Makassar, 30 Maret 2011
saat aku k makassar kehujanan.
awan menggulung menggumpal
hitam menutup celah cahaya
Sebentar lagi hujan turun
kan menitip pesan.
Pada pelakon dunia
pengukir zaman.
Coba pikirkan
hayatati renungkan
setiap pesan-pesan hujan
Banjir yang menghanyutkan
bukankah ini peringatan?
Renungkan!
Makassar, 30 Maret 2011
saat aku k makassar kehujanan.
Surat Tanpa Huruf
Jika engkau tahu
sedari dulu Tuhan sudah menegur kita
Telah beratus surat teguran
Sunami...,
gempa...,
banjir bandang...,
adalah surat tanpa huruf.
Zaman telah busuk
mungkin itulah penyebabnya.
Jeneponto, 30 Maret 2011
sedari dulu Tuhan sudah menegur kita
Telah beratus surat teguran
Sunami...,
gempa...,
banjir bandang...,
adalah surat tanpa huruf.
Zaman telah busuk
mungkin itulah penyebabnya.
Jeneponto, 30 Maret 2011
Surat Tanpa Huruf
Jika engkau tahu
sedari dulu Tuhan sudah menegur kita
Telah beratus surat teguran
Sunami...,
gempa...,
banjir bandang...,
adalah surat tanpa huruf.
Zaman telah busuk
mungkin itulah penyebabnya.
Jeneponto, 30 Maret 2011
sedari dulu Tuhan sudah menegur kita
Telah beratus surat teguran
Sunami...,
gempa...,
banjir bandang...,
adalah surat tanpa huruf.
Zaman telah busuk
mungkin itulah penyebabnya.
Jeneponto, 30 Maret 2011
Aku dalam Puisiku
aku dalam puisiku
menyulam bahagia yang tiada
mengenang sepi tergantung
menangisi seribu perih
aku dalam puisiku
menghirup busuk zaman
berteriak mengetuk kebiadaban
mengubur sampah ketidakadilan
aku dalam puisiku
bercinta dengan kata pada setiap bait
aku dalam puisiku
menabur doa di setaip waktu
aku dalam puisiku
penuh harap hidup penuh ketenangan
Jeneponto, 30 Maret 2011
menyulam bahagia yang tiada
mengenang sepi tergantung
menangisi seribu perih
aku dalam puisiku
menghirup busuk zaman
berteriak mengetuk kebiadaban
mengubur sampah ketidakadilan
aku dalam puisiku
bercinta dengan kata pada setiap bait
aku dalam puisiku
menabur doa di setaip waktu
aku dalam puisiku
penuh harap hidup penuh ketenangan
Jeneponto, 30 Maret 2011
Jumat, 25 Maret 2011
Seorang Siswa
Kemarin seorang siswa datang kepadaku. Bertanya ''Pak kenapa belum pulang?''
Sebelum kujawab aku bertanya padanya. Inikah tujuanmu sekolah? Kamu datang untuk pulang?
Entah ia sadar atau tidak.
Sebelum kujawab aku bertanya padanya. Inikah tujuanmu sekolah? Kamu datang untuk pulang?
Entah ia sadar atau tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)