KeIndahan Alam
Oleh: Nursamsir Tahir
Sejuk menyeruak menyiram pandanganku
di setiap rumput hinggap embun-embun
ranting pohon kekar memperindah
bersama daunnya hijau
Di situ alamku bebas bernyanyi
berirama asmara memimpikan kenanganku
padi menghijau sebentar lagi menguning
sementara burung-burung tak sabar lagi...
memetik buah padi
Ohhhh....kenanganku
masa kecilku yang indah
ditempat air mengalir itu...
aku sering membasahi tubuhku
kolam kecil di aliri mata air dari bukit
Sesekali aku memang tekjup pada wajah alamku
tak pernah bosan memndang
setiap detil tertata rapi.
semuanya seperti surga...
Sungguh Maha Besar Engkau Ya Allah...
03/05/2010
Rabu, 05 Mei 2010
PUISI CINTA
Maafkan Aku Cintaku
Oleh: Nursamsir Tahir
Dingin menyelimuti Pikirku
mengapungkan hangat dalam resahku
bungkam mulutku beku
pada goresan hujan yang menerpa bumi
tertulis: Sabarlah engkau!
seketika itu...
aku mengikat marahku
kupadamkan api dalam pikirku
resah kucambuk dalam diamku
aku melawan marahku
sakin sakitnya...
mataku mememandang bayang sepi
suara gemuruh menampar berisik
darahku mengalir deras...
Maafkan aku cintaku
kau pergi tanpa pembelaanku.
3 Mei 2010
Oleh: Nursamsir Tahir
Dingin menyelimuti Pikirku
mengapungkan hangat dalam resahku
bungkam mulutku beku
pada goresan hujan yang menerpa bumi
tertulis: Sabarlah engkau!
seketika itu...
aku mengikat marahku
kupadamkan api dalam pikirku
resah kucambuk dalam diamku
aku melawan marahku
sakin sakitnya...
mataku mememandang bayang sepi
suara gemuruh menampar berisik
darahku mengalir deras...
Maafkan aku cintaku
kau pergi tanpa pembelaanku.
3 Mei 2010
Maafkan Aku Cintaku
Oleh: Nursamsir Tahir
Dingin menyelimuti Pikirku
mengapungkan hangat dalam resahku
bungkam mulutku beku
pada goresan hujan yang menerpa bumi
tertulis: Sabarlah engkau!
seketika itu...
aku mengikat marahku
kupadamkan api dalam pikirku
resah kucambuk dalam diamku
aku melawan marahku
sakin sakitnya...
mataku mememandang bayang sepi
suara gemuruh menampar berisik
darahku mengalir deras...
Maafkan aku cintaku
kau pergi tanpa pembelaanku.
3 Mei 2010
Oleh: Nursamsir Tahir
Dingin menyelimuti Pikirku
mengapungkan hangat dalam resahku
bungkam mulutku beku
pada goresan hujan yang menerpa bumi
tertulis: Sabarlah engkau!
seketika itu...
aku mengikat marahku
kupadamkan api dalam pikirku
resah kucambuk dalam diamku
aku melawan marahku
sakin sakitnya...
mataku mememandang bayang sepi
suara gemuruh menampar berisik
darahku mengalir deras...
Maafkan aku cintaku
kau pergi tanpa pembelaanku.
3 Mei 2010
Minggu, 02 Mei 2010
PUISI
Membungkus Sedih
Rapatkan sedihku dalam jiwaku
bungkus kesalku pada malam-malam sunyi
rebahkan bongkahan amarah
dalam cinta berakhir duka
tak ada yang sempurna
selalu saja lemah kalah
meresapi dinding-dinding hidup
mencaci setiap langkah yang kalah
dukaku menusuk kalbu
pada malam akhir kau bergurau
mengetarkan gendang telingaku
mengusik jiwa di setiap sudut anganku
aku...
seperti beku batu tak kuasa
setiap jengkal usahaku untukmu rebah
dinding-dinding tak lagi berdirih kokoh
seperti mencair di kehidupan nyata.
mati bukan sebuah pilihan
karena pasti kan berakhir kalah
jika terjadi sudahlah pasti
kubungkus semua perjuanganku denagan dosa
tanpa sadar ternyata aku bukan
pemilik jiwa yang sabar.
Ah...aku tak mau seperti itu.
akan kusimpan kenangan
sejak kutulis puisi ini
setelah kau mengakhiri tiga bulan lalu...
seperti mimpi saja.
kuucapkan terimakasih segalanya
belajar meratapi mimpi
yang tak kunjung berakhir bahagia.
semoga engkau bahagia...
sahabatku...
sahabatku...
yang lebih dari sahabat...
untukku aku bukan siapa-siapa untukmu lagi...
18/03/2010
Rapatkan sedihku dalam jiwaku
bungkus kesalku pada malam-malam sunyi
rebahkan bongkahan amarah
dalam cinta berakhir duka
tak ada yang sempurna
selalu saja lemah kalah
meresapi dinding-dinding hidup
mencaci setiap langkah yang kalah
dukaku menusuk kalbu
pada malam akhir kau bergurau
mengetarkan gendang telingaku
mengusik jiwa di setiap sudut anganku
aku...
seperti beku batu tak kuasa
setiap jengkal usahaku untukmu rebah
dinding-dinding tak lagi berdirih kokoh
seperti mencair di kehidupan nyata.
mati bukan sebuah pilihan
karena pasti kan berakhir kalah
jika terjadi sudahlah pasti
kubungkus semua perjuanganku denagan dosa
tanpa sadar ternyata aku bukan
pemilik jiwa yang sabar.
Ah...aku tak mau seperti itu.
akan kusimpan kenangan
sejak kutulis puisi ini
setelah kau mengakhiri tiga bulan lalu...
seperti mimpi saja.
kuucapkan terimakasih segalanya
belajar meratapi mimpi
yang tak kunjung berakhir bahagia.
semoga engkau bahagia...
sahabatku...
sahabatku...
yang lebih dari sahabat...
untukku aku bukan siapa-siapa untukmu lagi...
18/03/2010
Langganan:
Postingan (Atom)